×

COVID-19 UPDATES - SHIPPING INFORMATION & STORE HOURS

Trend Report

Dresshaus Woman - dr. Shella Pratiwi

Posted on 12 Sep, 2019

Wawancara dengan dr. Shella Pratiwi — Dokter muda sekaligus Public Relation untuk Lets Share Indonesia.

Seringkali masalah kesehatan luput dari perhatian masyarakat, terutama oleh generasi muda Indonesia. Padahal, masalah kesehatan, terutama yang terjadi kepada generasi penerus bangsa yang kurang mampu, dapat berdampak besar pada masa depan negeri ini. Sebagai usaha untuk memulai penanggulangan berbagai masalah kesehatan, sekelompok dokter generasi milenial membangun komunitas non-profit yang fokus untuk menyediakan pemeriksaan, konseling, dan pengobatan kesehatan secara gratis kepada anak-anak kurang mampu yang membuthkan, bernama Lets Share Indonesia. 

Pada suatu sore, Dresshaus bertemu dan berbincang santai dengan salah satu tim Hubungan Masyarakat dari Lets Share Indonesia dan membahas mengenai masalah kesehatan, serta aspirasi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia. 

 

Apa yang mendorong Anda untuk menjadi seorang dokter?

Awalnya, inspirasi untuk menjadi dokter datang dari kakek dan nenek saya. Kebetulan, keluarga saya memang membangun sebuah rumah sakit dan orang tua saya menginginkan adanya penerus kakek nenek saya, sehingga sejak kecil saya sudah diarahkan untuk menjadi dokter saat sudah besar nantinya. 

 

Bolehkah Anda bercerita sedikit mengenai Lets Share Indonesia?

Lets Share Indonesia adalah sebuah komunitas dan yayasan, sebuah wadah untuk pertolongan pertama. Kami memfokuskan pertolongan kepada anak-anak yang lahir dengan cacat bawaan dan cacat didapat, terutama bagi mereka yang tidak, ataupun belum memiliki BPJS. Karena melihat beberapa kasus, banyak masyarakat yang belum memiliki BPJS sehingga ketika adanya kejadian yang butuh pertolongan, kasus mereka menjadi tidak tertangani dengan segera, yang menyebabkan banyak anak-anak kecil tidak tertolong. Lets Share sendiri mengedepankan prinsip bahwa anak kecil adalah penerus bangsa, oleh karena itu kami lebih fokus terhadap anak kecil.

 

Isu kesehatan apa yang menjadi keprihatinan Anda dan butuh perhatian lebih besar?

Pertama adalah gizi. Selain itu, isu kesehatan di Indonesia yang sudah ada kemajuan namun belum dapat ditanggulangi secara maksimal adalah angka kematian pada bayi dan ibu hamil, stunting pada anak, dan penyakit tidak menular yang datang dari gaya hidup, contohnya diabetes dan darah tinggi.   

 

Apa yang harapan Anda akan isu kesehatan di Indonesia, dan apa objektif jangka panjang Anda mengenai hal tersebut?

Objektif jangka panjang kami adalah untuk menyentuh satu persatu masalah kesehatan dari skala yang kecil sampai besar. Tujuan akhirnya adalah untuk mengurangi angka kematian, gizi buruk, juga memperbaiki kondisi anak-anak yang sudah disebutkan sebelumnya yaitu cacat bawaan ataupun cacat didapat. Inti tujuan kami adalah untuk memperbaiki kualitas hidup dari anak-anak yang kami beri pertolongan. Ini adalah objektif pada skala kecil; kalau berbicara untuk skala besar di dunia kedokteran, tujuan kami adalah untuk membangun awareness masyarakat terhadap kesehatan mereka sendiri, mulai dari kesehatan secara fisik, maupun kesehatan mental dan emosional. 

 

Apa yang ingin Anda katakan kepada para dokter muda Indonesia di masa depan?

Mereka harus memiliki dedikasi yang berasal dari hati nurani. Semua harus diawali dari hati, dan jika memang ada keinginan untuk menolong, itu akan bermanfaat bagi orang lain dalam skala kecil maupun besar, yang pada akhirnya dapat bermanfaat dan memperbaiki kualitas hidup banyak orang.

 

Anda baru saja menikah, bagaimana cara Anda untuk menyeimbangkan kehidupan pekerjaan dan berkeluarga?

Pertama-tama, saya baru saja menikah selama dua minggu tiga hari. Tapi, kalau mengenai menyeimbangkan kehidupan bekerja dan berkeluarga, sebetulnya kembali lagi ke prioritas. Asal saya bisa tau bahwa prioritas pertama saya adalah keluarga, dan jika disamping itu saya juga bisa berkarya yang mungkin apa yang saya, atau orang banyak lakukan dapat bermanfaat bagi orang banyak, itu tidak apa-apa dilakukan. Yang penting ada negosiasi di dalam keluarga itu sendiri bahwa prioritas utama adalah keluarga, jadi tidak akan mengorbankan waktu bersama keluarga demi pekerjaan. 

 

Adakah tips untuk para bride-to-be yang sedang mempersiapkan pernikahannya?

Jangan stress! Pertama, tau deadline kalian. Deadline usahakan sudah jelas, jangan stress, jaga kesehatan, istirahat cukup, dan tentu banyak berdoa. Everything is gonna be okay. 

Shella's Outfit: Abella Dress in Pink by Kénata, Veria Top in White and Maya Skirt in White by By Gail.

Hair by: Salon by Houzcall.

 

 

 

0 comments

Leave a comment