×

COVID-19 UPDATES - SHIPPING INFORMATION & STORE HOURS

Trend Report

Dresshaus Woman – Laila Munaf

Posted on 14 Aug, 2019

An Interview with Laila Munaf – Co Founder of Sana Studio

Back when Sana Studio just started, the fitness culture in Indonesia was not as developed as it is today. Sana Studio emerged not only as the pioneer of Zumba studio in Indonesia but also a studio that creates community centered fitness, focusing on one mission; to improve the happiness of people all around.

Introducing our #DresshausWoman — entrepreneur, mother and wellness coach — Laila Munaf.

  

 

The Story Behind Sana Studio

What did you do before Sana Studio?

Laila Munaf: When I was working in Boston, there was a point in my life where I was craving for an escape, as my work in finance was making me down. I started biking in the morning to recharge my energy before work, and I had the realization of how exercising uplifts my mood. [During that time], I was having quite the quarter-life crisis; the U.S. stock market crashed in 2008, and so I decided to move back to my homeland. I resigned from my job and moved to Indonesia.

 

How did you get into the workout industry?

Back home, I saw an opportunity to create a fitness space. This idea came from seeing how my friends, many of them new mothers, were experiencing the challenges surrounding motherhood. As I was getting immersed into the workout industry, and seeing how exercising helped me find my inner happiness, I thought to myself - why don’t I introduce this to my friends?

 

 

Sana Studio as The Pioneer

How Sana Studio first came in Jakarta?

The first time Sana Studio opened in Jakarta, we started with only Zumba classes. We see that Zumba is a music based workout that people can enjoy. Most of our members are housewives, and as we grew, we brought in other programs such as suspension training and muay thai classes, as their husbands want workout classes as well.

Sana back then was not the Sana you see today; we started without a business plan. We are a family company that pretty much ‘goes with the flow’. However, Sana Studio has always been not just a business, but also a campaign. We are passionate about happiness and increasing wellness by exercising, through educating the benefits of a healthy lifestyle.

 

What was your source of inspiration?

I stayed in the US for a year to accompany my husband during his illness treatment. This time of my life made me realize that exercising is a very important part of my lifestyle – and I was inspired to bring back workout programs that extend the choice of our workout classes. So I brought back Poundfit, also a music based cardio exercise that was introduced for the first time in Indonesia by Sana Studio on August 2016.

 

 

Expanding Sana Studio

What inspired you to open Sana Kith & Kin?

If we open a new branch of Sana Studio with the same programs, wouldn’t it be a waste of energy? As other similar studios are emerging, we wanted to offer something that hasn’t been offered by other studios. And since our new studio is located beside Playparq, prenatal and postnatal classes with kids program on after school hours seemed ideal. We partnered with a trainer with a background in prenatal and postnatal training, and Sana Kith & Kin was born.

 

 

Managing Time

How do you manage your time between entrepreneurship, teaching, and family?

I bring my son to work. I see this as a positive thing, as I could introduce my son what I do, and make him familiar with my work. My family is my first priority, work and fortune can come anytime.

 

What keeps you motivated to stay active?

I have days when I don’t really want to exercise, or when I lack the energy to teach. But, after I set aside my negative thoughts and listen to my body, I can balance out what my body needs and what my mind wants. My motivation came from personal experience. My husband was diagnosed with a serious illness, and I realize that, as my family is my priority, staying active and investing in health is very important for the future of my son.

 

 

 

Wawancara dengan Laila Munaf  – Co Founder Sana Studio

Beberapa tahun lalu saat Sana Studio baru dibentuk, semangat dan budaya berolahraga di Indonesia masih belum seramai sekarang. Saat itu, Sana Studio muncul tidak hanya sebagai pelopor studio Zumba di Indonesia, tetapi juga sebagai pusat komunitas olahraga dan kesehatan yang berfokus pada satu misi; meningkatkan kebahagiaan orang-orang di sekitar kita.

Memperkenalkan #DresshausWoman — seorang ibu, pengusaha, juga pelatih kesehatan — Laila Munaf.

 

 

Kisah Di Balik Sana Studio

Apa yang Anda lakukan sebelum membentuk Sana Studio?

Laila Munaf: Saat itu saya masih bekerja di Boston. Saya berada pada titik dimana saya merasa sangat butuh pelarian, sementara pekerjaan saya di bidang keuangan tidak membuat saya bahagia. Saya memulai bersepeda di pagi hari untuk mengisi energi sebelum bekerja, dan dari kebiasaan tersebut saya sadar bahwa berolahraga meningkatkan mood saya. [Selama masa tersebut], saya mengalami semacam krisis; pasar saham Amerika jatuh pada tahun 2008, sehingga saya memutuskan untuk kembali ke tanah air. Saya keluar dari pekerjaan saya dan pindah ke Indonesia.

 

Bagaimana awal mula Anda terlibat dengan industri olahraga?

Di Indonesia, saya melihat peluang untuk menciptakan ruang berolahraga. Ide ini datang dari pengalaman teman-teman saya, yang pada saat itu banyak yang baru menjadi ibu dan mengalami berbagai kesulitan dalam menjalani peran baru mereka. Sementara saya semakin terlibat dengan industri olahraga dan menyadari bahwa berolahraga membantu saya menemukan kebahagiaan, saya pikir, mengapa tidak saya kenalkan berolahraga pada teman-teman saya?

 

 

Sana Studio sebagai Pionir

Bagaimana permulaan kehadiran Sana Studio di Jakarta?

Pertama kali Sana Studio dibuka di Jakarta, kami hanya memiliki kelas Zumba sebagai program kami. Kami melihat bahwa Zumba adalah olahraga yang menggunakan musik yang dapat dinikmati banyak orang. Sebagian besar anggota kami adalah ibu rumah tangga, dan seiring berkembangnya Sana Studio, kami membawa program lain seperti suspension training dan kelas muay thai, karena para suami menginginkan kelas olahraga juga.

Sana yang dahulu berbeda dengan Sana yang sekarang; kami memulai tanpa rencana bisnis. Kami adalah perusahaan keluarga yang lebih banyak 'mengikuti arus'. Namun, sejak dahulu Sana Studio bukan saja hanya sebuah bisnis, tetapi juga sebuah campaign. Kami antusias mengenai kesehatan dan meningkatkan kebahagiaan melalui olahraga, dengan cara mengedukasi mengenai manfaat dari hidup sehat. 

 

Hal apa yang menjadi sumber inspirasi Anda?

Saya kembali ke Amerika dan menetap selama setahun untuk menemani pengobatan suami saya. Saat-saat tersebut membuat saya sadar bahwa olahraga adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan saya – dan saya terinspirasi untuk membawa kembali program olahraga untuk menambah pilihan kelas di Sana. Saya membawa Poundfit, yang juga merupakan olahraga berdasar musik yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh Sana Studio pada Agustus 2016.

 

 

Perkembangan Sana Studio

Hal apa yang menginspirasi Anda untuk membuka Sana Kith & Kin?

Kalau kami membuka cabang baru dari Sana Studio dengan program yang sama, bukankah itu hanya menyia-nyiakan energi? Dengan studio serupa lainnya yang juga bermunculan, kami ingin menawarkan sesuatu yang belum ada di studio lain. Dan juga karena studio baru kami berada di sebelah Playparq, kelas prenatal dan postnatal dengan program untuk anak-anak pada jam pulang sekolah tampaknya ideal. Kami bekerja sama dengan pelatih berlatar belakang prenatal dan postnatal training, dan Sana Kith & Kin pun lahir.

 

 

Mengatur Waktu

Bagaimana cara Anda mengatur waktu antara pekerjaan, mengajar, dan keluarga?

Saya membawa anak saya bekerja. Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif, saya dapat mengenalkan anak saya pada pekerjaan saya. Keluarga adalah prioritas utama saya, pekerjaan dan keuntungan dapat datang kapan saja.

 

Apa yang menjadi motivasi Anda untuk tetap aktif?

Saya tentu pernah mengalami hari-hari saat saya tidak ingin berolahraga, atau ketika saya merasa terlalu lelah untuk mengajar. Namun, setelah saya mengesampingkan pikiran negatif dan mendengarkan badan saya, saya dapat menyeimbangkan apa yang badan dan pikiran saya butuhkan. Motivasi saya berasal dari pengalaman pribadi. Setelah suami saya didiagnosa penyakit serius, saya sadar, karena keluarga adalah prioritas saya, bagi saya untuk terus berolahraga dan menjaga kesehatan adalah hal yang sangat penting bagi masa depan anak saya.

 

 —

 

Laila's outfit: Damien Dress by Bypozo, Maura Kaftan by Kala Senja

Hair by: Salon by Houzcall

0 comments

Leave a comment